Sabtu, 30 April 2011

Karangan Rantai Deduksi

Nama : Febriyanti
Npm : 10208497 / 3EA03
Tugas 4 Bahasa Indonesia

1. 1. Rantai deduksi dengan tema “Rujak”

Semua rujak pedas rasanya. (hasil geberalisasi)

Kali ini saya diberi lagi rujak.

Sebab itu, rujak ini juga pasti pedas rasanya. (deduksi)

Saya tidak suka akan makan-makanan yang pedas rasnya. (induksi : generalisasi)

Ini adalah rujak.

Sebab itu, saya tidak suka makanan ini. (deduksi)

Saya tidak suka makan apa saja, yang saya tidak senangi (induksi : generalisasi)

Saya tidak suka makanan ini.

Sebab itu saya tidak memakannya. (deduksi)

2. 2.Rantai deduksi dengan tema “Bintang”

Semua bintang dilangit memiliki cahaya yang indah. (hasil generalisasi)

Saya mempunyai keinginan untuk menggapainya.

Oleh sebab itu, bintang yang saya ingin gapai memiliki cahaya yang sangat indah. (deduksi)

Sebenarnya saya sangat suka dengan keindahan cahaya bintang tersebut. (induksi:generalisasi)

Bintang ini adalah bintang yang memiliki cahaya yang sangat indah.

Sebab itu, saya sangat suka keindahan bintang dilangit. (deduksi)

Saya sangat suka bintang yang memiliki cahaya yang indah. (induksi:generalisasi)

Saya menyukai bintang tersebut.

Sebab itu, saya ingin menggapainya. (deduksi)

Rabu, 06 April 2011

Penalaran Induktif dan Salah Nalar

Tugas B.Indonesia2
Nama : Febriyanti
Kelas : 3EA03
Npm : 10208497

II.1 PENALARAN INDUKTIF

A. Generelisasi

Merupakan suatu proses penlaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tadi.

Contoh :

Pemerintah telah menjadikan Pulau Komodo sebagai habitat pelestarian komodo. Di Ujung Kulon, pemerintah mebuat cagar alam untuk pelestarian badak bercula satu. Selain itu, sejumlah Undang-Undang dibuat untuk melindungi hewan langka dari incaran pemburu. Banyak cara yang telah dilakukan pemerintah untuk melestarikan hewan-hewan langka.

Generelisasi dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu :

1. Loncatan Induktif

Sebuah generalisasi yang bersifat loncatan induktif tetap bertolak dari beberapa fakta yang digunakan belum mencerminkan fenomena yang ada.

Contoh :

Menurut Nielsen, peningkatan penjualan pada kategori makanan dan minuman mencapai 12,7 persen atau hampir dua kali lipat dari peningkatan penjualan produk tersebut selama 2009, yang sebesar 6,6 persen.

2. Tanpa Loncatan Induktif

Sebuah generalisasi tidak mengandung loncatan induktif bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali.

Contoh :

Batik adalah produk lokal unggulan yang paling menarik minat konsumen.

B. Hipotese dan Teori

Hipotese adalah semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu sebagai penentu dalam peneliti fakta-fakta tertentu sebagai penuntun dalam meneliti fakta-fakta lain yang lebih lanjut.

Untuk merumuskan hipotese yang baik harus diperhatikan beberapa ketentuan berikut :

1. Secara maksimal memperhitungkan semua evidensi yang ada.

2. Bila tak ada alas an-alasan lain, maka anatara dua hipotese yang mungkin diturunkan, lebih baik memilih hipotese yang sederhana dari pada rumit.

3. Sebuah hipotese tidak pernah terpisah dari semua pengetahuan dan pengalaman manusia.

4. Hipotese bukan hanya menjelaskan fakta-fakta yang membentuknya.

Teori adalah azas-azas yang umum dan abstra yang diterima secara ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat dipercaya untuk menerangkan fenomena-fenomena yang ada.

C. Analogi

Suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk suatu hal akan berlari pula untuk hal yang lain.

Contoh :

Para atlet memiliki latihan fisik yang keras guna membentuk otot-otot yang kuat dan lentur. Demikian juga dengan tentara, mereka memerlukan fisik yang kuat untuk melindungi masyarakat. Keduanya juga membutuhkan mental yang teguh untuk bertanding ataupun melawan musuh-musuh di lapangan. Oleh karena itu, untuk menjadi atlet dan tentara harus memiliki fisik dan mental yang kuat.

D. Hubungan Kausal

Hubungan kausal dapat berlangsung dalam tiga pola, yaitu :

1. Sebab ke akibat

Contoh : Banjir sering melanda kota kami karena saluran-saluran airnya penuh dengan sampah dan kotoran.

2. Akibat ke sebab

Contoh : Ia menangis karena senang mendapatkan uang untuk membeli obat dan makanan untuk adik dan ibunya dirumah.

3. Akibat ke akibat

Contoh : Harga BBM telah dinaikkan. Kenaikan harga BBM ini ternyata memicu kenaikan ongkos transportasi yang memang memerlukan BBM. Karena ongkos transportasi naik, barang-barang yang diangkut menggunakan alat transportasi tentu harganya juga naik. Akibatnya, kini rakyat semakin menderita.

E. Induksi dalam Metode Eksposisi

Eksposisi adalah karangan yang menyajikan sejumlah pengetahuan atau informasi. Tujuannya, pembaca mendapat pengethauan atau informasi sejelas-jelasnya.

Contoh :Pemerintah akan memberikan bantuan pembangunan rumah atau bangunan kepada korban gempa. Bantuan pembangunan rumah atau bangunan tersebut disesuaikan dengan tingkat kerusakannya. Warga yang rumahnya rusak ringan mendapat bantuan sekitar 10 juta. Warga yang rumahnya rusak sedang mendapat bantuan sekitar 20 juta. Warga yang rumahnya rusak berat mendapat bantuan sekitar 30 juta. Calon penerima bantuan tersebut ditentukan oleh aparat desa setempat dengan pengawasan dari pihak LSM.

II.2 SALAH NALAR

Gagasan, pikiran, kepercayaan atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut sebagai salah nalar.

Berikut ini salah nalar yang berhubungan dengan induktif, yaitu :

A. Generelisasi terlalu luas

Contoh : perekonomian Indonesia sangat berkembang

B. Analogi yang salah

Contoh : ibu Yuni, seorang penjual batik, yang dapat menjualnya dengan harga terjangkau. Oleh sebab itu, ibu Lola seorang penjual batik, tentu dapat menjualya dengan harga terjangkau.


Sumber : 1. yahoo.answer
2. harriefc.blogspot.com